Categories
Pendidikan

Manfaat Segmentasi

Manfaat Segmentasi

Manfaat Segmentasi

Semua perusahaan jasa hampir pasti mempunyai pertanyaan seperti ini: “pelanggan seperti apakah yang harus dicari untuk menjadi target/sasaran dari jasa yang kita tawarkan?” Pertanyaan in tentunya harus dijawab sebelum perusahaan itu memulai kegiatan pemasaran yang lain. Salah satu kunci kesuksesan perusahaan adalah terletak pada proses segmentasi, yang merupakan “akar” dari pertanyaan tersebut. Keberhasilan perusahaan tentu saja sangat bergantung pada pelanggannya. Yang dimaksud pelanggan adalah siapa pelanggannya, bagaimana karakteristik pelanggan yang akan mempengaruhi proses pembelian, berapa besar daya beli pelanggan, yang semuanya ditentukan oleh proses segmentasi.

Seperti telah kita ketahui, perusahaan jasa berkembang dengan pesat di Indonesia, mulai dari perusahaan yang menyediakan jasa binatu sampai jasa perbankan. Tingkat kompetisi pun semakin meningkat, dan masing-masing perusahaan harus semakin jeli dalam memilih pasar sasarannya agar dapat ikut bersaing dan tidak kalah dalam persaingan. Dengan pemilihan pasar yang tepat, perusahaan sudah mengambil langkah yang baik dalam pemasaran jasanya. Sedangkan positioning produk dengan dukungan differensiasi yang nyata akan memudahkan pelanggan membedakan jasa suatu perusahaan dengan jasa pesaing di benak pelanggan. Oleh karena itulah topik segmentasi pasar jasa, targeting dan positioning jasa ini sangat menarik dan penting dibahas

 

5 manfaat segmentasi yang dapat diperoleh, yaitu :

  • Mendisain jasa yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar, artinya bahwa trend perubahan kebutuhan pelanggan dipasar harus selalu diakomodasi. Pada saat ini pelanggan jasa lebih mengutamakan pelayanan yang dapat memberikan solusi (pemecahan masalah) terhadap kebutuhan dan keinginan mereka.
  • Menganalisis pasar, yaitu dengan melihat berbagai trend dan perubahan yang terjadi di pasar seperti pesaing, pelanggan, dan faktor lingkungan. Analisis pasar ini akan bermanfaat bagi perusahaan untuk mengembangkan strategi marketing mix yang optimal dan juga memprediksi perubahan selera konsumen pada masa yang akan datang.
  • Menemukan peluang, dapat dilakukan dengan memperhatikan situasi permintaan konsumen dipasar. Adanya latent demand (permintaan yang tidak tampak) terhadap suatu produk dapat digali lebih dalam dengan cara menciptakan jasa yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Munculnya berbagai usaha jasa
  • Menguasai posisi yang superior (unggul) dan kompetitif, melalui segmentasi perusahaan dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan kosumen secara optimal dengan menawarkan produk yang high value.
  • Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien, melalui segmentasi perusahaan dapat memilih strategi komunikasi sesuai dengan segmen yang dituju.

 

Positioning

Positioning merupakan konsep psikologis yang terkait dengan bagaimana pelanggan yang ada ataupun calon pelanggan dapat menerima perusahaan tersebut dan produknya dibandingkan dengan perusahaan lain. Latar belakang pemikiran positioning adalah untuk menciptakan citra (image) yang diharapkan, maksudnya adalah langsung terkait dengan bagaimana pelanggan yang berada di segmen pasar tertentu atau spesifik itu mempersepsikan jasa perusahaan. Sebagai contoh, begitu banyaknya perguruan tinggi di Jakarta akan dapat membuat lulusan SMU bingung dalam menentukan pilihan bila mereka tidak dapat membedakan satu sama lain. Oleh karenanya, UI menyatakan sebagai research university, UPH menyatakan sebagai cyber campus, dan Universitas memposisikan sebagai universitas belajar jarak jauh dan lain-lain. Tanpa strategi positioning yang efektif maka perusahaan tersebut akan selalu berada dalam posisi reaktif terhadap program pemasaran pesaing.

 

Diferensiasi Jasa inti

Jasa yang ditawarkan perusahaan jasa harus mampu menawarkan value kepada pelanggan. Untuk penawaran jasa value dapat diartikan sebagai kualitas jasa yang ditawarkan. Untuk dapat menghasilkan kualitas jasa yang baik maka perusahaan perlu memperhatikan dimensi pengukuran yang terdiri dari aspek-aspek berikut: kinerja, keragaman produk, kehandalan, kesesuaian, daya tahan, kemampuan pelayanan, estetika dan kualitas yang dipersepsikan.

  • Kinerja (Performance). Kinerja disini merujuk pada karakter jasa inti yang meliputi merek, atribut-atribut yang dapat diukur, dan aspek-aspek kinerja individu. Kinerja beberapa jasa biasanya didasari oleh preferensi subjektif pelanggan yang pada dasarnya bersifat umum (universal).
  • Keragaman Produk (Features). Dapat berbentuk produk tambahan dari suatu produk inti yang dapat menambah nilai suatu produk. Features suatu produk biasanya diukur secara subjektif oleh masing-masing individu (dalam hal ini konsumen) yang menunjukkan adanya perbedaan kualitas suatu jasa. Dengan demikian perkembangan kualitas suatu jasa menuntut karakter fleksibilitas agar dapat menyesuaikan diri dengan permintaan pasar.
  • Kehandalan (Reliability). Kehandalan suatu jasa menunjukkan kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang diarahkan pada aspek problem solving.
  • Kesesuaian (Conformance). Dimensi lain yang berhubungan dengan kualitas suatu barang adalah kesesuaian jasa dengan standar dalam industrinya. Kesesuaian suatu jasa dalam industri jasa diukur dari tingkat akurasi dan waktu penyelesaian termasuk juga perhitungan kesalahan yang terjadi, keterlambatan yang tidak dapat diantisipasi dan beberapa kesalahan lain.
  • Kemampuan pelayanan (Serviceability). Kemampuan pelayanan yang diberikan suatu jasa menghasilkan suatu kesimpulan akan kualitas jasa yang dinilai secara subjektif oleh konsumen.
  • Estetika (Aesthetics). Merupakan dimensi pengukuran yang paling subjektif. Estetika merupakan penilaian dan refleksi yang dirasakan oleh konsumen.
  • Kualitas yang dipersepsikan (Perceived quality). Konsumen tidak selalu memiliki informasi yang lengkap mengenai atribut-atribut jasa. Namun demikian biasanya konsumen memiliki informasi tentang jasa secara tidak langsung, misalnya melalui merek, nama, dan negara produsen. Ketahanan produk misalnya, dapat menjadi sangat kritis dalam pengukuran kualitas produk.

 

Sumber : https://seputarilmu.com/